Kamis, 10 Mei 2012

SYUKURKU



Di sudut hidup
Seorang anak menangis dalam keremangan
Meratap hilang ibu tersayang
Menahan isak tanpa tertahan
Ia sendirian
Dalam lapar, dalam piatu keyatiman dan dalam kerengkeng besi kemiskinan
Di sudut hidup
Ibu tua mendorong gerobag hidup
Tempat ia menaruh harapan tuk esok
Kepala ia banting
Harga diri ia lempar ke got di pinggir jalan
Rasa malu menguap direjang bara matahari
Demi anak tersayang
Yang menunggu datang nasi sesuap tangan
Di sudut hidup
Sijenius miskin menggantung harapan
Meraih bintang dengan kedua tangan
Tanpa tangga, tanpa sayap tanpa keajaiban
Ia melompat lompat menginjak tanah ketabahan
Berharap mimpi bukan uap yang tak dapat digenggam
Dan di sudut hidup
Di sini aku lebih baik dari mereka
Tidur dalam naungan rumah yang teduh
Berbantal empuk, berselimut hangat
Tapi begitulah
Untuk bersukur
Mungkin aku harus kehilangan semuanya
Menjadi mereka para yatim
Menjadi mereka para pengemis
Menjadi mereka para gelandangan
Menjadi sperti mereka anak putus sekolah
Menjadi mereka yang ternista dan papa
Karena manusia takkan pernah sadar pada apa yang dimiliki
Sebelum ia kehilangan
Bersyukur dengan apa yang kita punya, menjadikan kita lebih kaya dari para raja
Bersyukur dengan apa yang tidak lita punya, membuat kita lebih mulia dari penghuni surga