Minggu, 03 Februari 2013

Mamaaa

       


Tak pernah terpikirkan olehku bagaimana menjalani hidup sebagai single parent. Apalagi dengan empat orang anak. Bayangkan!! Betapa repotnya seorang ayah, ataupun seorang ibu bila harus mengurusi anak-anknya seorang diri. Mau tidak mau dia harus merangkap jadi seorang ibu sekaligus sebagai ayah demi buah hatinya. Yaa, demi buah hatinya, dia harus berjuang seorang diri. Well..Inilah yang dialami oleh ibuku.
Semasa kecilku, aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku tak tau bgaimana rasanya punya ayah. Terkadang aku sangat penasaran ingin merasakan belaian dan pengertian dari sosok makhluk yang namanya ayah, layaknya teman-teman sebayaku. Disaat mereka diantar ke sekolah oleh ayahnya, aku tidak. Aku diantar oleh kakak sulungku. Disaat mereka punya sepatu baru yang katanya dibelikan ayahnya, aku tidak, aku berbeda dengan mereka. Tapi hal itu tidak membuatku bersedih. Justru aku bersyukur.. aku masih punya ibu yang penuh kasih sayang, yang tak kenal kata lelah dan putus asa demi merawat dan membesarkan kami.
Mamaaa… begitulah kami memanggilnya. Sosok ibu yang begitu tegar, penuh semangat, gigih  dan pantang menyerah.Walau tak jarang dari kami sering membuatnya jengkel karena pertengkaran kecil. Dia hanya menegur kami dengan tatapan marah tapi penuh cinta.  “Wuihh, tatapan yang gimana tuh?!” tatapan mama aku doong!! :P. Kembali ke laptop!!  Beliau seorang guru agama di SD 22 Jeppe’e yang sekompleks dengan SD 23 Macege dimana aku dan ketiga saudaraku lulusan SD tersebut. Aku pernah bertanya kepada mama, “mama, kenapa aku tidak disekolahkan disekolah mama aja?” dengan menahan senyum dia menjawab, “kalo kamu sekolah di sekolah mama, trus kamu ranking 1, nanti kamu dibilangin “rangking mama”. Mungkin sudah menjadi hal yang lumrah di sekolah itu. Kalau aja ada anak yg ranking 1, walaupun memang si anak pintar dan pantas menyandang predikat itu, tapi mamanya jga kebetulan mengajar di sekolah itu. Apalagi sbagai wali kelasnya. Toh tetap dikira dapat peringkat karena mamanya. Mungkin karena sdh beberapa kali diitemukan kasus seperti itu, yang tadinya anak itu memang kemampuannya di bawah rata-rata dibandingkan anak yang lain, tiba2 koq dia bsa rangking 1 yah?. Itu karena wali kelasnya adalah ibunya sendiri. Curang kan??. Hehe..entahlah, ini suatu kebetulan atau apa.. aku juga kurang mengerti.. mudah2an di sekolah kalian gak ada yang kyk gtu ya!! Selain alasan tersebut, mama juga menginginkan anak-anaknya mandiri. Tidak selalu tergantung sma mama. Dia tidak mau kalau anaknya manja. Dikit-dikit mama.. dikit-dikit, mama…Dan mungkin itulah alasan utamanya. Beliau ingin anak-anaknya mandiri. ^_^
Waktu itu aku murid baru. Duduk di bangku kelas satu. Aku dikenal sebagai  murid yang cukup tekun dan tak pernah telat masuk kelas. Bagaimanatidak!! Mama sudah menanamkan sikap kedisiplinan ini dari dirinya sendiri. Dia tak pernah telat ke sekolah. Subuh-subuh semua pekerjaan sudah beres. Mulai dari membersihkan rumah sampai menyiapkan sarapan buat kami. Makanya tak jarang dari gru-guru memujiku, karna aku cukup menonjol diantara teman-temanku.  Tiba saatnya penerimaan raport. Dan aku meraih peringkat pertama diantara 40 siswa. “untung aku gak sekolah di sekolahnya mama”, kataku dalam hati. Hampir aku dibilangin “rangking mama” Heheh.. mengetahui berita itu, mama cukup bangga, sampe-sampe dia memamerkan aku di sekolah tempat ia mengajar. Aku melihat senyum kebanggaan tergaris dibibirnya. Tak henti-hentinya dia bercerita tentang rankingku kepada setiap temannya. Katanya aku mendapatkan predikat ranking satu karena kemampuanku sendiri. Tapi toh, kalau dipikir karna mama juga kan?? Kalau bukan didikan dan motivasinya aku tak bisa seperti itu. Lagian yang lahirin aku siapa? Mama kann?? Heheh. Makasih mamaa…
Mama adalah sosok ibu yang telaten. Dia tak pernah kehabisan ide untuk membuat apapun yang bisa meringankan beban hidup keluarga. Contohnya saja, dia membuat usaha sederhana. Seperti guru-guru lainnya. Dia juga membuat es lilin dan gorengan untuk dijual di sekolahnya. Lumayanlah untuk kebutuhan sehari-hari dan uang jajan kami berempat. Karena boleh dibilang uang jajan yang harus disediakan mama perharinya cukup banyak. Walaupun mama memberikan uang jajan yang sangat pas-pasan. Awalnya aku mengeluh, karena uang jajanku tak sebanyak uang jajan teman-temanku. Tapi lambat laun aku sudah terbiasa. Terkadang dalam sehari aku tak jajan. Aku lebih memilih untuk menabung. Dengan berpikir, suatu hari aku bisa  jajan sepuasnya, atau membeli sesuatu yang aku inginkan. Bayangkan saja, waktu itu kakak sulungku sudah duduk di bangku SMA, yang tentunya memiliki kebutuhan yang lebih dari kami bertiga. Yang ke dua duduk di bangku SMP, kmudian aku dan kakak aku yang ke tiga msih duduk di bangku SD. Walaupun mama memiliki warisan sawah yang cukup luas dari kakek, dan itu lebih dari cukup tuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami, tapi mama tidak mau hanya bergantung pada warisan tersebut. “warisan itu untuk masa depan kalian” kata mama. Aku bangga padamu mama..
Mama memiliki hobi seperti ibu-ibu lainnya. Dia sering ikut arisan. Seperti  arisan panci, piring lah dan berbagai macam perabot  dapur dan rumah tangga lainnya. Disamping arisan, mama juga masuk anggota koperasi. Itung-itung disamping sebagai investasi juga untuk jaga-jaga. Kali aja ada kebutuhan mendadak. Mama adalah sosok yang paling tidak suka ditagih. Karnanya dia memiliki pribadi cukup cekatan  dan tak pernah telat dalam urusan  membayar tagihan bulanan, seperti membayar listrik, air, arisan, dan tagihan lainnya. Hal itu sangat terlihat ketika mama baru gajian. Mama lebih memprioritaskan menyisihkan uang untuk tagihan2 bulanan ketimbang mempedulikan aku yang sedari tadi merengek minta uang baru. Heheh, namanya juga anak-anak.
Mama juga dikenal sebagai pejalan kaki yang hebat!! Dalam sehari dia mampu ke berbagai tempat tanpa menggunakan jasa tukang becak, ojek ataupun semacamnya. Kalau lokasinya masih dalam kota, dia lebih memilih berjalan kaki. Tiap pagi dia ke sekolah dengan berjalan kaki. Walaupun jarak antara rumah dan sekolah lumayan jauh, alasan itu tidak mengubah niatnya untuk tetap berjalan kaki. Biasanya sepulang mengajar dia ke pasar. Lagi-lagi   berjalan kaki, apalagi jarak antara sekolahnya dan pasar  lumayan dekat. Di samping alasan ngirit, mungkin dia juga berpikir kalau berjalan kaki lebih sehat. Dia baru naek becak kalau dia benar-benar tidak mampu mengangkat belanjaannya. Itupun jarang, palingan sewaktu baru gajian aja, belanjaannya banyak karena untuk keperluan bulanan. Mom.. I miss that moment!! ^_^
Selain itu, masih banyak lohh kelebihan mamaku. Mama juga paling jago menawar. Apapun dia tawar. Dia mampu menawar barang yang akan ia beli sampe sepertiga dari harga barang tersebut. Hebat kan?? Sampe-sampe barang yang sudah tidak layak untuk ditawar, dia masih menawarnya. Hehehe. Tapi sayangnya tak satupun dari kami mewarisi kehebatan mama yang jago menawar itu. Heheh…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar