Tak pernah terpikirkan olehku bagaimana
menjalani hidup sebagai single parent. Apalagi dengan empat orang anak. Bayangkan!!
Betapa repotnya seorang ayah, ataupun seorang ibu bila harus mengurusi
anak-anknya seorang diri. Mau tidak mau dia harus merangkap jadi seorang ibu
sekaligus sebagai ayah demi buah hatinya. Yaa, demi buah hatinya, dia harus
berjuang seorang diri. Well..Inilah yang dialami oleh ibuku.
Semasa kecilku, aku tak pernah merasakan
kasih sayang seorang ayah. Aku tak tau bgaimana rasanya punya ayah. Terkadang
aku sangat penasaran ingin merasakan belaian dan pengertian dari sosok makhluk
yang namanya ayah, layaknya teman-teman sebayaku. Disaat mereka diantar ke
sekolah oleh ayahnya, aku tidak. Aku diantar oleh kakak sulungku. Disaat mereka
punya sepatu baru yang katanya dibelikan ayahnya, aku tidak, aku berbeda dengan
mereka. Tapi hal itu tidak membuatku bersedih. Justru aku bersyukur.. aku masih
punya ibu yang penuh kasih sayang, yang tak kenal kata lelah dan putus asa demi
merawat dan membesarkan kami.
Mamaaa… begitulah kami memanggilnya. Sosok
ibu yang begitu tegar, penuh semangat, gigih
dan pantang menyerah.Walau tak jarang dari kami sering membuatnya
jengkel karena pertengkaran kecil. Dia hanya menegur kami dengan tatapan marah
tapi penuh cinta. “Wuihh, tatapan yang
gimana tuh?!” tatapan mama aku doong!! :P. Kembali ke laptop!! Beliau seorang guru agama di SD 22 Jeppe’e
yang sekompleks dengan SD 23 Macege dimana aku dan ketiga saudaraku lulusan SD
tersebut. Aku pernah bertanya kepada mama, “mama, kenapa aku tidak disekolahkan
disekolah mama aja?” dengan menahan senyum dia menjawab, “kalo kamu sekolah di sekolah
mama, trus kamu ranking 1, nanti kamu dibilangin “rangking mama”. Mungkin sudah
menjadi hal yang lumrah di sekolah itu. Kalau aja ada anak yg ranking 1,
walaupun memang si anak pintar dan pantas menyandang predikat itu, tapi mamanya
jga kebetulan mengajar di sekolah itu. Apalagi sbagai wali kelasnya. Toh tetap
dikira dapat peringkat karena mamanya. Mungkin karena sdh beberapa kali diitemukan
kasus seperti itu, yang tadinya anak itu memang kemampuannya di bawah rata-rata
dibandingkan anak yang lain, tiba2 koq dia bsa rangking 1 yah?. Itu karena wali
kelasnya adalah ibunya sendiri. Curang kan??. Hehe..entahlah, ini suatu
kebetulan atau apa.. aku juga kurang mengerti.. mudah2an di sekolah kalian gak
ada yang kyk gtu ya!! Selain alasan tersebut, mama juga menginginkan
anak-anaknya mandiri. Tidak selalu tergantung sma mama. Dia tidak mau kalau
anaknya manja. Dikit-dikit mama..
dikit-dikit, mama…Dan mungkin itulah alasan utamanya. Beliau ingin
anak-anaknya mandiri. ^_^
Waktu itu aku murid baru. Duduk di bangku
kelas satu. Aku dikenal sebagai murid
yang cukup tekun dan tak pernah telat masuk kelas. Bagaimanatidak!! Mama sudah
menanamkan sikap kedisiplinan ini dari dirinya sendiri. Dia tak pernah telat ke
sekolah. Subuh-subuh semua pekerjaan sudah beres. Mulai dari membersihkan rumah
sampai menyiapkan sarapan buat kami. Makanya tak jarang dari gru-guru memujiku,
karna aku cukup menonjol diantara teman-temanku. Tiba saatnya penerimaan raport. Dan aku
meraih peringkat pertama diantara 40 siswa. “untung aku gak sekolah di
sekolahnya mama”, kataku dalam hati. Hampir aku dibilangin “rangking mama”
Heheh.. mengetahui berita itu, mama cukup bangga, sampe-sampe dia memamerkan
aku di sekolah tempat ia mengajar. Aku melihat senyum kebanggaan tergaris
dibibirnya. Tak henti-hentinya dia bercerita tentang rankingku kepada setiap
temannya. Katanya aku mendapatkan predikat ranking satu karena kemampuanku
sendiri. Tapi toh, kalau dipikir karna mama juga kan?? Kalau bukan didikan dan
motivasinya aku tak bisa seperti itu. Lagian yang lahirin aku siapa? Mama
kann?? Heheh. Makasih mamaa…
Mama adalah sosok ibu yang telaten. Dia tak
pernah kehabisan ide untuk membuat apapun yang bisa meringankan beban hidup
keluarga. Contohnya saja, dia membuat usaha sederhana. Seperti guru-guru
lainnya. Dia juga membuat es lilin dan gorengan untuk dijual di sekolahnya.
Lumayanlah untuk kebutuhan sehari-hari dan uang jajan kami berempat. Karena
boleh dibilang uang jajan yang harus disediakan mama perharinya cukup banyak. Walaupun
mama memberikan uang jajan yang sangat pas-pasan. Awalnya aku mengeluh, karena
uang jajanku tak sebanyak uang jajan teman-temanku. Tapi lambat laun aku sudah
terbiasa. Terkadang dalam sehari aku tak jajan. Aku lebih memilih untuk
menabung. Dengan berpikir, suatu hari aku bisa
jajan sepuasnya, atau membeli sesuatu yang aku inginkan. Bayangkan saja,
waktu itu kakak sulungku sudah duduk di bangku SMA, yang tentunya memiliki
kebutuhan yang lebih dari kami bertiga. Yang ke dua duduk di bangku SMP,
kmudian aku dan kakak aku yang ke tiga msih duduk di bangku SD. Walaupun mama
memiliki warisan sawah yang cukup luas dari kakek, dan itu lebih dari cukup tuk
memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami, tapi mama tidak mau hanya bergantung
pada warisan tersebut. “warisan itu untuk masa depan kalian” kata mama. Aku
bangga padamu mama..
Mama memiliki hobi seperti ibu-ibu lainnya.
Dia sering ikut arisan. Seperti arisan
panci, piring lah dan berbagai macam perabot dapur dan rumah tangga lainnya. Disamping
arisan, mama juga masuk anggota koperasi. Itung-itung disamping sebagai investasi
juga untuk jaga-jaga. Kali aja ada kebutuhan mendadak. Mama adalah sosok yang
paling tidak suka ditagih. Karnanya dia memiliki pribadi cukup cekatan dan tak pernah telat dalam urusan membayar tagihan bulanan, seperti membayar
listrik, air, arisan, dan tagihan lainnya. Hal itu sangat terlihat ketika mama
baru gajian. Mama lebih memprioritaskan menyisihkan uang untuk tagihan2 bulanan
ketimbang mempedulikan aku yang sedari tadi merengek minta uang baru. Heheh,
namanya juga anak-anak.
Mama juga dikenal sebagai pejalan kaki yang
hebat!! Dalam sehari dia mampu ke berbagai tempat tanpa menggunakan jasa tukang
becak, ojek ataupun semacamnya. Kalau lokasinya masih dalam kota, dia lebih
memilih berjalan kaki. Tiap pagi dia ke sekolah dengan berjalan kaki. Walaupun
jarak antara rumah dan sekolah lumayan jauh, alasan itu tidak mengubah niatnya
untuk tetap berjalan kaki. Biasanya sepulang mengajar dia ke pasar.
Lagi-lagi berjalan kaki, apalagi jarak antara sekolahnya
dan pasar lumayan dekat. Di samping
alasan ngirit, mungkin dia juga
berpikir kalau berjalan kaki lebih sehat. Dia baru naek becak kalau dia
benar-benar tidak mampu mengangkat belanjaannya. Itupun jarang, palingan
sewaktu baru gajian aja, belanjaannya banyak karena untuk keperluan bulanan.
Mom.. I miss that moment!! ^_^
Selain itu, masih banyak lohh kelebihan
mamaku. Mama juga paling jago menawar. Apapun dia tawar. Dia mampu menawar
barang yang akan ia beli sampe sepertiga dari harga barang tersebut. Hebat
kan?? Sampe-sampe barang yang sudah tidak layak untuk ditawar, dia masih
menawarnya. Hehehe. Tapi sayangnya tak satupun dari kami mewarisi kehebatan
mama yang jago menawar itu. Heheh…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar