Ngotak-ngatik laptop, memBack_Up
data-data, berhubung karena laptop lama dah dipensiunkan. Ternyata dalam hidden
fileQ ketemu coretan-coretan lamaku. Yang aku tulis dua tahun lalu. Kepikiran
tuk posting di blog. Itung2 buat nambah-nambah postingan. Dari pada blognya
sepi.. hahahah… walaupun dengan bahasa yang sangat sederhana. Maklumlah, aku
bukan seorang penulis, penyair ato semacamnya. Aku hanyalah seorang cwek yang
miskin kata-kata.Tapi apa salahnya menuangkan pengalaman kita dalam sebuah
tulisan. Iyyuuuhhh!!!
Mangkoso, 5 Mei 2010
Aku, Dia, dan Sepucuk Surat
Saat
kumenulis catatan ini aku teringat pada peristiwa lima tahun yang lalu. Memoriku
memaksaku untuk menulisnya. Karena peristiwa itu termasuk hal yang sulit aku
lupakan.
Kalo gak salah, hari itu hari Jumat. Hari
dimana aku dan teman-temanku melakukan kegiatan Jumat bersih. Itulah kewajiban
dan rutinitas mingguan yang kami lakukan sebagai anak pesantren. Setamat SMP
aku melanjutkan studiku di Ponpes DDI AD Mangkoso. Pesantren dimana paman dan
bibiku dulunya juga mengais ilmu agama. Aku ditempatkan di asrama yang letaknya
bersebelahan dengan rumah Anre Gurutta. Para santri menyebutnya asrama Mess
Tingkat. Setelah kegiatan Jumat bersih selesai, kami mandi dan melakukan aktivitas
lainnya. Kami dibolehkan nonton TV di rumah Gurutta tiap hari Jumat. Karena hari
itu hari libur kami. Sebagai santri yang jarang nonton, tentu kami tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagian hanya sekali dalam seminggu. Berbeda dengan
di rumah, mau nonton kapan aja boleh. Dengan perasaan riang, kami pun pergi ke
rumah beliau.Tak terasa tiga jam berlalu. Tak lelah mata kami sedari tadi
nongkrong di satu chanell. Adzan asar
pun dikumandangkan. Saatnya kami kembali untuk malaksanakan jama’ah ashar. Ketika
aku dan teman-teman yang lain bergegas ke asrama, tiba-tiba seorang santriwati
datang menghampiriku. Dia tinggal di rumah Gurutta. Dia memberiku sepucuk surat
berwarna hijau. “Dari seseorang..“ bisiknya kepadaku. Aku dapat menangkap ketegangan di wajahnya
ketika ia menyodorkan surat itu. Dengan wajah bengong, aku menerimanya. Tanpa komentar apapun, tanpa
tahu surat itu dari mana dan maksudnya apa. Seketika itu hatiku dihantam ribuan
pertanyaan yang membuatku jadi kebingungan dan sibuk sendiri. Maklumlah, masih
santri baru dah dapat surat. Yahh, itu
adalah surat pertama yang aku terima di pesantren. Dengan rasa penasaranku aku
bergegas ke kamar. Kemudian membuka lipatan surat itu. Isinya begitu sederhana
dan sedikit lugu. Memancing bibirku tuk tersenyum saat membacanya. Walaupun
isinya cuma litta’arruf, tapi surat
itu memiliki makna penuh harap. “Ada-ada aja” kataku dalam hati. Setelah aku
cari tahu, ternyata surat itu dari seorang santri tsanawiah kelas 2 Tonrongnge
(Kampus II kuhusus Putra). Secara akademik berada satu tingkat di bawahku. Lebih
parahnya lagi dia adalah anak dari salah seorang Anre Gurutta. Bayangkan!! Anak
dari salah satu Kyai terpandang di pesantren ini mengirim surat untukku. Hah?? Sulit
kupercaya!! Tapi hal itu tidak membuatku menjadi seseorang yang arrogant. Sepucuk
surat bertanggalkan 28 Juni 2005 dan panjangnya empat paragraph itu aku lipat dan aku selipkan di sebuah buku. Lalu kumasukkan ke dalam
laci sambil berkata “gak penting dehh..!!”
Keesokan harinya, seperti biasa
sepulang sekolah dengan perasaan lelah aku merebahkan tubuhku di atas kasur.
Istirahat sejenak kemudian bangkit lagi untuk melaksanakan sholat duhur. Tak
lupa aku mengganti seragamku terlebih dahulu. Setelah itu aku bergegas
mengambil jatah makan siang di catering. Tak lama setelah makan, aku kembali
ke tempat tidurku, lalu melanjutkan bacaan novelku yang sisa beberapa halaman.
Sesekali aku menoleh ke jam dinding, waktu
menunjukkan tepat pukul 14.00 tiba-tiba aku teringat dengan surat kemarin. “Hmm..balas
gak yaa?!!” kataku dalam hati. Aku juga teringat dengan salah satu kalimatnya
di paragraph terakhir yang mengatakan “pandai-pandailah menghargai
pengorbanan seseorang.. please!!”, dan di akhir suratnya juga
tertulis “kutunggu jawabanmu besok pukul 14.30 tepat akan datang seorang
utusanku (orangnya agak pendek dan
berkulit putih)”. “hmm, kasian juga” pikirku. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil secarik kertas. Dengan mantap, aku menulis
kata demi kata hingga membentuk sebuah kalimat yang cukup singkat dan jelas. Berniat
untuk membalas suratnya. Gak peduli dia mau kecewa atau tidak dengan apa yang
aku tulis. Setidaknya aku sudah mengahargai pengorbanannya. Kalau gak salah sih
isinya seperti ini:
“buat apa kamu mengenal aku”? aku rasa ga
perlu”. Cukup
singkat kan?
Setelah
itu aku bergegas naik ke balkon rumah Gurutta. Tak lama kemudian aku melihat seseorang
dari kejauhan. Dia muncul dari sebuah bangunan tua di dekat pintu gerbang
pesantren. Kami menyebut bangunan itu dengan sebutan badim (badan agrobisnis
pesantern). Dengan langkah kaki yang
begitu cepat, orang yang agak pendek dan berkulit putih itu berjalan ke arahku.
Ternyata orang itu adalah utusan yang dia maksud dalam suratnya.. “Wahh.. persis
dengan ciri-ciri yang dia sebutkan” kataku sambil menahan senyum. Dengan cepat
aku melemparkan balasan suratku itu kepadanya (takut ketahuan sama pembina).
Dan dia pun berlalu begitu saja.
Setelah
peristiwa itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Bisa dibilang gak ada
kesan sedikitpun tentang peristiwa kemarin. Sampai akhirnya tidak ada lagi
kabar dari dia, tentang dia, dan apapun yang berkaitan dengan dia. Akupun tak
pernah berharap dan mau tau tentang dia lagi.. ^_^
_______
My Simple
Story in Bulam ^_^
Waktu
bergulir begitu cepat. Hampir empat tahun aku menimba ilmu di pesantren. Tapi kini
keadaannya berbeda. Aku sudah duduk di kelas tiga Madrasah Aliyah Bulu’ Lampang.
Terletak di sebuah bukit yang berjarak kurang lebih dua kilo meter dari kampus
satu (kampus pusat DDI AD Mangkoso).
Selama
mondok di Bulu’ lampang, fisikku lemah, jadinya aku sering jatuh sakit. Mungkin
karena lingkungannya kurang bersahabat denganku. Terkadang aku pingsan dalam perjalanan menuju
masjid yang jalannya mendaki dan tak jarang membuat para santri ngos-ngosan.
Tapi hal itu tidak mengurungkan niat kami untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai
anak pesantren. Termasuk mengikuti pengajian setiap maghrib dan subuh hari.
Meskipun terkadang dari kami ada yang malas.
Karena
keseringan jatuh sakit, aku sering pulang ke kampung halamanku. Otomatis banyak
hal yang terlewatkan dan tidak aku ketahui. Termasuk kebersamaan teman-teman di
asrama. Sampe-sampe sewaktu pelantikan pengurus OSKN aku tidak sempat hadir, kebetulan
waktu pembentukan pengurus, aku dipilih sebagai koordinator bahasa. Mau tidak
mau aku harus menerima kenyataan kalau sewaktu pelantikan aku diwakili temanku
yang bernama Surati. Sedikit kecewa sih saat melihat foto pelantikan itu di
kalender DDI tahun 2008, yang seharusnya di foto itu ada aku di antara
teman-temanku yang juga pengurus OSKN, hehe.
_________
Libur
ramadhan telah berlalu. Dan aku termasuk santri yang datangnya telat. Ketika
itu aku tidak langsung ke Bulam (Bulu’
Lampang: Kampus III Putri), tapi aku mampir di kampus satu untuk menemui kakak
aku. Dia seorang mahasiswi Mangkoso. Dia masuk kuliah pas aku kelas dua Aliyah.
Tak lama kemudian tiba waktunya untuk balik ke Bulam. Sambil menunggu angkot
lewat, aku berbicara dengan seorang mahasiswa yang juga mempunyai tujuan yang
sama denganku. Dia mau ke Bulam untuk menjenguk adiknya. Tak jauh dariku aku
melihat seorang pemuda yang mengenakan seragam pramuka dengan earphone berwarna
putih di telinganya. Ternyata dia seorang santri TonrongNge. Sambil tersenyum dia
menghampiriku dan mengulurkan tangannya, dengan tujuan ingin berjabat tangan
denganku. Karena takut mengecewakannya terpaksa aku meraih tangannya dan kami
pun berjabat tangan. Setelah aku perhatikan, dia mengingatkan aku pada sepucuk
surat yang aku terima tiga tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di bangku I’dadiyah
(pra Tsanawiyah dan Aliyah). Yah, dialah orangnya. Orang pertama yang
mengirimkan aku surat di pesantren. Sebut saja namanya Er (ga usah dipublish
ya!!). Tak lama kemudian angkot pun muncul. Dengan segera aku naik ke angkot. Dialam
perjalanan, kejadian tadi masih terbayang. Tak kusangka dia hadir kembali di
kehidupanku.
Setibanya
di asrama aku menceritakan kejadian tadi kepada salah seorang temanku, yang
juga sekamarku. Belum sempat aku menyelesaikan ceritaku, dia memotongnya. Dan
menjelaskan tentang kedekatan si Er dengan temanku yang bernm Jum. “Wahh, tak
pernah kuduga” cetusku. Kata teman-temanku mereka cinlok dalam perjalanan ke Mamuju. Mereka ingin menghadiri acara
halal bi halal di sana. Aku gak pernah merasa cemburu ataupun kecewa mendengar
berita itu. Toh, aku gak punya perasaan sama skali terhadap si Er. Meskipun dia
sudah mengirimkanku surat beberapa tahun yang lalu. Emang sihh, aku termasuk tipikal
orang yang sulit diakrabi. Terlebih lagi sama cowok yang sebelumya gak pernah
aku kenal. Bisa dibilang aku orangnya
agak cuek. Kurang PD dan pemalu. Yahh, begitulah Allah mendesign diriku. Tapi
klo dah kenal ma orang, insya Allah..aku ga kalah ramahnya dengan Telettubies…heheh..
_________
Mangkoso Abadaa…!!!
Singkat
cerita, tibalah saat dimana aku harus meniggalkan Bulu’ Lampang. Menyisahkan
berbagai kenangan bersama teman-teman, menorehkan berbagai macam kisah di bukit
Nurul Hidayah dan menanggalkan seragam Aliyahku menuju jenjang yang lebih
tinggi lagi.
Mahasiswi,
yaa.. inilah status baruku, ketika aku tamat Aliyah dengan predikat yang cukup
memuaskan yaitu lulus dengan nilai UAN tertinggi di jurusan IPA. Yah.. bukan
karena aku cerdas, atau aku lebih menonjol dari yang lain. Tapi mungkin ini hanya keberuntungan. Lagian kan ini UAN, siapapun
dapat memperoleh predikat tersebut jikalau ia beruntung, hehe.
Mau tidak
mau aku harus mengurungkan niatku untuk melanjutkan studiku di Makassar. Dengan
pertimbangan ayahku. Ayahku tidak mengijinkanku untuk melanjutkan studiku di kota
Daeng itu. Beliau pikir kalau pergaulan di sana terlalu bebas. Apalagi kalau sudah
menjadi anak kost-kostan. Tak jarang
dari mereka terjerumus dalam pergulan yang akan mengantarkannya ke dunia free
seks. Meskipun aku telah berusaha meyakinkannya. Kalau aku akan menjaga
diriku dengan baik. Beliau tetap dalam pendiriannya. Mau tidak mau aku harus menerimanya.
Kalau aku termasuk dalam golongan teman-teman yang mendapat julukan “Mangkoso
Abdaa”. Yaa!! Aku lanjut di STAI DDI AD Mangkoso.
_________
Hari
pertama masuk kuliah, meskipun sedikit kaku tapi aku harus terbiasa dengan
suasana kampus. Aku masih belum percaya kalau aku sudah duduk di bangku kuliah.
Terkadang aku tersenyum sendiri ketika menyadari kalau aku lanjut di Mangkoso. Suatu
hari aku ke Waserda (koperasi pesantren) untuk membeli pulpen. Aku sudah
telat beberapa menit. Jadinya aku seperti ular yang terancam oleh pemangsa. Aku
buru-buru. Tak sengaja aku hampir menabrak seorang pemuda yang juga berada di
waserda. Ya.. lagi-lagi dia. Dia adalah masa laluku. Tanpa memperdulikannya aku
merogoh sakuku dan mengeluarkan pecahan lima ribu rupiah untuk membayarnya. Kemudian
berlari menuju ruang kuliah.
Terkadang aku masih belum percaya kalau aku
sudah jadi seorang mahasiswi. Suatu hari, saat perkuliahan berlangsung, temanku
Jum, menghamipiriku dan duduk di sampingku. “dedee…ada org minta nomormu”,
bisiknya kepadaku. “spa”? kataku pelan. “Ikky” (si Er itu),
jawabnya, dengan alasan katanya dia butuh seorang teman atau sahabat. Baru saja
orang yang paling berarti dalam hidupnya meninggal. Yaitu ibunya. Dengan
perasaan iba aku pun tak berpikir panjang, langsung sja aku bilang “kasi’mi
sajaa”. Hmmm disinilah dimulainya perkenalan n penyatuan kembali dua insan
yang tak pernah kudugaa. Hiihihih..
Udahmi
dulu dehh cape’maaa
BERSAMBUNG…

Kisah Cinta Seorang Gadis Asal Kab.Bone, tinggal d Kab.Maros, Ngekos d Alauddin..Yg d ceritakan dalam sebuah tulisan dengan kata2 yg sederhana. He:)
BalasHapusHeheh... namanya jg msih labil kak.. :D
Hapus