Senin, 04 Februari 2013

Berawal dari Pesan Pendek


Ngotak-ngatik laptop, memBack_Up data-data, berhubung karena laptop lama dah dipensiunkan. Ternyata dalam hidden fileQ ketemu coretan-coretan lamaku. Yang aku tulis dua tahun lalu. Kepikiran tuk posting di blog. Itung2 buat nambah-nambah postingan. Dari pada blognya sepi.. hahahah… walaupun dengan bahasa yang sangat sederhana. Maklumlah, aku bukan seorang penulis, penyair ato semacamnya. Aku hanyalah seorang cwek yang miskin kata-kata.Tapi apa salahnya menuangkan pengalaman kita dalam sebuah tulisan. Iyyuuuhhh!!!

                                                                 Mangkoso, 5 Mei 2010
Aku, Dia, dan Sepucuk Surat

Saat kumenulis catatan ini aku teringat pada peristiwa lima tahun yang lalu. Memoriku memaksaku untuk menulisnya. Karena peristiwa itu termasuk hal yang sulit aku lupakan.

 Kalo gak salah, hari itu hari Jumat. Hari dimana aku dan teman-temanku melakukan kegiatan Jumat bersih. Itulah kewajiban dan rutinitas mingguan yang kami lakukan sebagai anak pesantren. Setamat SMP aku melanjutkan studiku di Ponpes DDI AD Mangkoso. Pesantren dimana paman dan bibiku dulunya juga mengais ilmu agama. Aku  ditempatkan di asrama yang letaknya bersebelahan dengan rumah Anre Gurutta. Para santri menyebutnya asrama Mess Tingkat. Setelah kegiatan Jumat bersih selesai, kami mandi dan melakukan aktivitas lainnya. Kami dibolehkan nonton TV di rumah Gurutta tiap hari Jumat. Karena hari itu hari libur kami. Sebagai santri yang jarang nonton, tentu kami tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagian hanya sekali dalam seminggu. Berbeda dengan di rumah, mau nonton kapan aja boleh. Dengan perasaan riang, kami pun pergi ke rumah beliau.Tak terasa tiga jam berlalu. Tak lelah mata kami sedari tadi nongkrong di satu chanell. Adzan asar pun dikumandangkan. Saatnya kami kembali untuk malaksanakan jama’ah ashar. Ketika aku dan teman-teman yang lain bergegas ke asrama, tiba-tiba seorang santriwati datang menghampiriku. Dia tinggal di rumah Gurutta. Dia memberiku sepucuk surat berwarna hijau. “Dari seseorang..“ bisiknya kepadaku.  Aku dapat menangkap ketegangan di wajahnya ketika ia menyodorkan surat itu. Dengan wajah bengong,  aku menerimanya. Tanpa komentar apapun, tanpa tahu surat itu dari mana dan maksudnya apa. Seketika itu hatiku dihantam ribuan pertanyaan yang membuatku jadi kebingungan dan sibuk sendiri. Maklumlah, masih santri baru  dah dapat surat. Yahh, itu adalah surat pertama yang aku terima di pesantren. Dengan rasa penasaranku aku bergegas ke kamar. Kemudian membuka lipatan surat itu. Isinya begitu sederhana dan sedikit lugu. Memancing bibirku tuk tersenyum saat membacanya. Walaupun isinya cuma litta’arruf, tapi surat itu memiliki makna penuh harap. “Ada-ada aja” kataku dalam hati. Setelah aku cari tahu, ternyata surat itu dari seorang santri tsanawiah kelas 2 Tonrongnge (Kampus II kuhusus Putra). Secara akademik berada satu tingkat di bawahku. Lebih parahnya lagi dia adalah anak dari salah seorang Anre Gurutta. Bayangkan!! Anak dari salah satu Kyai terpandang di pesantren ini mengirim surat untukku. Hah?? Sulit kupercaya!! Tapi hal itu tidak membuatku  menjadi seseorang yang arrogant. Sepucuk surat bertanggalkan 28 Juni 2005 dan panjangnya empat paragraph itu aku lipat dan aku  selipkan di sebuah buku. Lalu kumasukkan ke dalam laci sambil berkata “gak penting dehh..!!”

          Keesokan harinya, seperti biasa sepulang sekolah dengan perasaan lelah aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Istirahat sejenak kemudian bangkit lagi untuk melaksanakan sholat duhur. Tak lupa aku mengganti seragamku terlebih dahulu. Setelah itu aku bergegas mengambil jatah makan siang di catering. Tak lama setelah makan, aku kembali ke tempat tidurku, lalu melanjutkan bacaan novelku yang sisa beberapa halaman. Sesekali  aku menoleh ke jam dinding, waktu menunjukkan tepat pukul 14.00 tiba-tiba aku teringat dengan surat kemarin. “Hmm..balas gak yaa?!!” kataku dalam hati. Aku juga teringat dengan salah satu kalimatnya di paragraph terakhir yang mengatakan “pandai-pandailah menghargai pengorbanan seseorang.. please!!”, dan di akhir suratnya juga tertulis “kutunggu jawabanmu besok pukul 14.30 tepat akan datang seorang utusanku  (orangnya agak pendek dan berkulit putih)”. “hmm, kasian juga” pikirku.  Tanpa berpikir panjang aku langsung  mengambil secarik kertas. Dengan mantap, aku menulis kata demi kata hingga membentuk sebuah kalimat yang cukup singkat dan jelas. Berniat untuk membalas suratnya. Gak peduli dia mau kecewa atau tidak dengan apa yang aku tulis. Setidaknya aku sudah mengahargai pengorbanannya. Kalau gak salah sih isinya seperti ini:
 “buat apa kamu mengenal aku”? aku rasa ga perlu”. Cukup singkat kan?

Setelah itu aku bergegas naik ke balkon rumah Gurutta. Tak lama kemudian aku melihat seseorang dari kejauhan. Dia muncul dari sebuah bangunan tua di dekat pintu gerbang pesantren. Kami menyebut bangunan itu dengan sebutan badim (badan agrobisnis pesantern).  Dengan langkah kaki yang begitu cepat, orang yang agak pendek dan berkulit putih itu berjalan ke arahku. Ternyata orang itu adalah utusan yang dia maksud dalam suratnya.. “Wahh.. persis dengan ciri-ciri yang dia sebutkan” kataku sambil menahan senyum. Dengan cepat aku melemparkan balasan suratku itu kepadanya (takut ketahuan sama pembina). Dan dia pun berlalu begitu saja.

Setelah peristiwa itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasanya. Bisa dibilang gak ada kesan sedikitpun tentang peristiwa kemarin. Sampai akhirnya tidak ada lagi kabar dari dia, tentang dia, dan apapun yang berkaitan dengan dia. Akupun tak pernah berharap dan mau tau tentang dia lagi.. ^_^
_______

My Simple Story in Bulam ^_^

Waktu bergulir begitu cepat. Hampir empat tahun aku menimba ilmu di pesantren. Tapi kini keadaannya berbeda. Aku sudah duduk di kelas tiga Madrasah Aliyah Bulu’ Lampang. Terletak di sebuah bukit yang berjarak kurang lebih dua kilo meter dari kampus satu (kampus pusat DDI AD Mangkoso).

Selama mondok di Bulu’ lampang, fisikku lemah, jadinya aku sering jatuh sakit. Mungkin karena lingkungannya kurang bersahabat denganku.  Terkadang aku pingsan dalam perjalanan menuju masjid yang jalannya mendaki dan tak jarang membuat para santri ngos-ngosan. Tapi hal itu tidak mengurungkan niat kami untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai anak pesantren. Termasuk mengikuti pengajian setiap maghrib dan subuh hari. Meskipun terkadang dari kami ada yang malas.

Karena keseringan jatuh sakit, aku sering pulang ke kampung halamanku. Otomatis banyak hal yang terlewatkan dan tidak aku ketahui. Termasuk kebersamaan teman-teman di asrama. Sampe-sampe sewaktu pelantikan pengurus OSKN aku tidak sempat hadir, kebetulan waktu pembentukan pengurus, aku dipilih sebagai koordinator bahasa. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan kalau sewaktu pelantikan aku diwakili temanku yang bernama Surati. Sedikit kecewa sih saat melihat foto pelantikan itu di kalender DDI tahun 2008, yang seharusnya di foto itu ada aku di antara teman-temanku yang juga pengurus OSKN, hehe.

­­­­_________


Libur ramadhan telah berlalu. Dan aku termasuk santri yang datangnya telat. Ketika itu aku tidak langsung ke Bulam  (Bulu’ Lampang: Kampus III Putri), tapi aku mampir di kampus satu untuk menemui kakak aku. Dia seorang mahasiswi Mangkoso. Dia masuk kuliah pas aku kelas dua Aliyah. Tak lama kemudian tiba waktunya untuk balik ke Bulam. Sambil menunggu angkot lewat, aku berbicara dengan seorang mahasiswa yang juga mempunyai tujuan yang sama denganku. Dia mau ke Bulam untuk menjenguk adiknya. Tak jauh dariku aku melihat seorang pemuda yang mengenakan seragam pramuka dengan earphone berwarna putih di telinganya. Ternyata dia seorang santri TonrongNge. Sambil tersenyum dia menghampiriku dan mengulurkan tangannya, dengan tujuan ingin berjabat tangan denganku. Karena takut mengecewakannya terpaksa aku meraih tangannya dan kami pun berjabat tangan. Setelah aku perhatikan, dia mengingatkan aku pada sepucuk surat yang aku terima tiga tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di bangku I’dadiyah (pra Tsanawiyah dan Aliyah). Yah, dialah orangnya. Orang pertama yang mengirimkan aku surat di pesantren. Sebut saja namanya Er (ga usah dipublish ya!!). Tak lama kemudian angkot pun muncul. Dengan segera aku naik ke angkot. Dialam perjalanan, kejadian tadi masih terbayang. Tak kusangka dia hadir kembali di kehidupanku.

Setibanya di asrama aku menceritakan kejadian tadi kepada salah seorang temanku, yang juga sekamarku. Belum sempat aku menyelesaikan ceritaku, dia memotongnya. Dan menjelaskan tentang kedekatan si Er dengan temanku yang bernm Jum. “Wahh, tak pernah kuduga” cetusku. Kata teman-temanku mereka cinlok dalam perjalanan ke Mamuju. Mereka ingin menghadiri acara halal bi halal di sana. Aku gak pernah merasa cemburu ataupun kecewa mendengar berita itu. Toh, aku gak punya perasaan sama skali terhadap si Er. Meskipun dia sudah mengirimkanku surat beberapa tahun yang lalu. Emang sihh, aku termasuk tipikal orang yang sulit diakrabi. Terlebih lagi sama cowok yang sebelumya gak pernah aku kenal. Bisa  dibilang aku orangnya agak cuek. Kurang PD dan pemalu. Yahh, begitulah Allah mendesign diriku. Tapi klo dah kenal ma orang, insya Allah..aku ga kalah ramahnya dengan Telettubies…heheh..
_________

Mangkoso Abadaa…!!!

Singkat cerita, tibalah saat dimana aku harus meniggalkan Bulu’ Lampang. Menyisahkan berbagai kenangan bersama teman-teman, menorehkan berbagai macam kisah di bukit Nurul Hidayah dan menanggalkan seragam Aliyahku menuju jenjang yang lebih tinggi lagi.

Mahasiswi, yaa.. inilah status baruku, ketika aku tamat Aliyah dengan predikat yang cukup memuaskan yaitu lulus dengan nilai UAN tertinggi di jurusan IPA. Yah.. bukan karena aku cerdas, atau aku lebih menonjol dari yang lain. Tapi mungkin ini hanya keberuntungan. Lagian kan ini UAN, siapapun dapat memperoleh predikat tersebut jikalau ia beruntung, hehe.

Mau tidak mau aku harus mengurungkan niatku untuk melanjutkan studiku di Makassar. Dengan pertimbangan ayahku. Ayahku tidak mengijinkanku untuk melanjutkan studiku di kota Daeng itu. Beliau pikir kalau pergaulan di sana terlalu bebas. Apalagi kalau sudah menjadi anak kost-kostan. Tak jarang dari mereka terjerumus dalam pergulan yang akan mengantarkannya ke dunia free seks. Meskipun aku telah berusaha meyakinkannya. Kalau aku akan menjaga diriku dengan baik. Beliau tetap dalam pendiriannya. Mau tidak mau aku harus menerimanya. Kalau aku termasuk dalam golongan teman-teman yang mendapat julukan “Mangkoso Abdaa”. Yaa!! Aku lanjut di STAI DDI AD Mangkoso.
_________

Hari pertama masuk kuliah, meskipun sedikit kaku tapi aku harus terbiasa dengan suasana kampus. Aku masih belum percaya kalau aku sudah duduk di bangku kuliah. Terkadang aku tersenyum sendiri ketika menyadari kalau aku lanjut di Mangkoso. Suatu hari aku ke Waserda (koperasi pesantren) untuk membeli pulpen. Aku sudah telat beberapa menit. Jadinya aku seperti ular yang terancam oleh pemangsa. Aku buru-buru. Tak sengaja aku hampir menabrak seorang pemuda yang juga berada di waserda. Ya.. lagi-lagi dia. Dia adalah masa laluku. Tanpa memperdulikannya aku merogoh sakuku dan mengeluarkan pecahan lima ribu rupiah untuk membayarnya. Kemudian berlari menuju ruang kuliah.

 Terkadang aku masih belum percaya kalau aku sudah jadi seorang mahasiswi. Suatu hari, saat perkuliahan berlangsung, temanku Jum, menghamipiriku dan duduk di sampingku. “dedee…ada org minta nomormu”, bisiknya kepadaku. “spa”? kataku pelan. “Ikky” (si Er itu), jawabnya, dengan alasan katanya dia butuh seorang teman atau sahabat. Baru saja orang yang paling berarti dalam hidupnya meninggal. Yaitu ibunya. Dengan perasaan iba aku pun tak berpikir panjang, langsung sja aku bilang “kasi’mi sajaa”. Hmmm disinilah dimulainya perkenalan n penyatuan kembali dua insan yang tak pernah kudugaa. Hiihihih..
Udahmi dulu dehh cape’maaa
BERSAMBUNG…

2 komentar:

  1. Kisah Cinta Seorang Gadis Asal Kab.Bone, tinggal d Kab.Maros, Ngekos d Alauddin..Yg d ceritakan dalam sebuah tulisan dengan kata2 yg sederhana. He:)

    BalasHapus